Aisyah adalah sosok wanita yang cantik parasnya dan imannya. Ia tak pernah berpacaran seperti perempuan masa kini pada umunya. Ia sangat patuh dan taat kepada perintah Allah. Ia juga sangat menyayangi kedua orang tua, sahabat, dan orang-orang disekitarnya.
Hujan dipagi hari membuat Aisyah melamun dengan beribu khayalan dikepalanya. Ia terus membayangkan sesuatu yang bahkan tidak mungkin terjadi jika Allah tak menghendakinya. Namun , disetiap sholat sepertiga malamnya ia selalu berdoa dan sedikit memaksa kepada Sang Maha Cinta agar dirinya dijodohkan dengan seseorang yang ia kagumi saat ini.
Bagaimana ia tak kagum kepada sosok lekaki sholeh ini? Aisyah sering kali melihat lelaki itu sholat khusyuk di masjid , membaca beribu ayat al quran , bersedekah, dan hal hal lain yg membuat semua wanita kagum terhadapnya. Aisyah selalu bercerita kepada Allah tentang sebuah rasa kagum ini yg bermetamorfosis sempurna menjadi sebuah perasaan yg tak dapat ia jelaskan. Apakah sebuah perasaan cinta? Tidak! Ia tidak gampang menyatakan bahwa itu adalah cinta, ia sudah bertekad jika cintanya akan diberikan kepada calon suami yang akan menghalalkannya kelak.
Tahun berganti begitu cepatnya, namun perasaan itu tetap dan tidak berganti. Tetap sama pada seseorang yang sama pula. Aisyah selalu brcerita mengenai hal ini kepada ibu dan bapaknya, ia sdh menganggap orang tuanya itu sebagai sahabat, teman curhat, dan pastinya orang-orang yg hebat dikehidupannya. Namun, apakah lelaki itu sadar akan kekaguman Aisyah selama ini?
Dan pada sore itu, dimana hari itu adalah hari ulang tahun Aisyah ke-24. Ia merayakannya dengan cara berpuasa sunnah, tidak dengan sebuah pesta hura-hura. Aisyah duduk disebuah bangku diTaman dekat kampusnya, ia duduk sambil menunggu adzan maghrib tiba. Tepat jam 17.17 WIB sesosok laki-laki yg Aisyah kagumi datang kepadanya, ia tersenyum sambil memberikan sebuah makanan Kebab Turkey kesukaan Aisyah.
"Bagaimana ia bisa tau?" gumam Aisyah didalam hati. Aisyah hanya tertunduk malu dan mengucapkan terima kasih. Lelaki itu bertanya "Boleh tau alamat rumahmu? Aku besok mau memberikan sebuah undangan"
Aisyah secepat kilat memberi tahu alamat rumahnya kepada lelaki itu dan bertanya "Undangan apa?". Lelaki itu tersenyum sambil berkata "Undangan pernikahanku"
Seketika hati Aisyah rasanya teriris begitu dalam, hatinya yang lembut itu kini menjadi sekeras batu. Sore itu, adalah hari pertama Aisyah merasakan sebuah patah hati. Ntah tak bisa ia jelaskan.
Keesokan harinya lelaki itu menghampiri rumah Aisyah. Aisyah yang sedang bersedih tetap menampakkan senyum bulan sabitnya. Lelaki itu berkata "Ini undangan pernikahanku, semoga kamu bisa datang ya" jawab lelaki itu sambil menyerahkan amplop berwarna Biru. Warna kesukaan Aisyah.
Ya Allah, bagaimana ia bisa menerima sebuah undangan pernikahan dari lelaki yg ia kagumi bertahun-tahun ini? Bagaimana ia bisa tegar ketika lelaki itu duduk bersama calon istrinya dipernikahannya? Bagaimana? Hati Aisyah terasa sakit yg begitu dalam, hingga tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Aisyah hanya tersenyum dan berkata "Terima kasih, insyaallah aku akan datang diacara pernikahanmu" sambil memasang wajah sok tegar.
Saat dikamar, ia membuka undangan pernikahan dari lelaki itu. Dan apa yg ia temukan?????? Ia sangat kaget. Terkejut. Terharu. Sedih. Senang. Semua campur aduk jadi satu. Dan tertulis jelas diundangan itu "Muhammad dan Aisyah". Apa? Aisyah? apakah calonnya memiliki nama yg sama denganku? Sekali lagi ia membaca perlahan, Aisyah anak Bpk. Abdullah dan ibu Ummi. Abdullah? Ummi? Nama itu adalah nama kedua orang tuaku! Bagaimana ini bisa terjadi?
Aisyah segera lari menghampiri kedua orang tuanya dan menceritakan apa yg ia baca di undangan pernikahan itu. Sambil tersenyum senang, bapaknya menjelaskan "Wahai Aisyah anakku, Kami tahu bahwa Engkau mencintai seorang laki-laki itu. Kami juga tahu bahwa ini adalah pertama kalinya kau jatuh cinta. Dan doa mu telah dijawab oleh Allah , wahai anakku. Sesungguhnya lelaki itu telah menjatuhkan hatinya kepadamu sejak lama, namun ia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Hingga pada akhirnya, Lelaki itu datang beberapa hari yang lalu kerumah kita dengan membawa kedua orang tuanya, meminta mu, melamar mu untuk dijadikan Istrinya. Kami sebagai kedua orang tua ingin memberikan sebuah hadiah kecil dihari ulang tahunmu ini. Kami tidak memberitahu soal lamaran lelaki itu. Dan hingga akhirnya, telah ditetapkan tanggal pernikahan kalian. Kami sebagai org tua mu sangat bahagia ketika anakku yg sholehah ini mendapatkan suami yg sholeh itu. Selamat Aisyah, kamu telah menjadi calon istri lelaki yg kamu kagumi selama ini"
Malam itu adalah kado terindah Aisyah selama ini. Ternyata doa yg ia semogakan setiap hari di sepertiga malam kini terjawab sudah. Allah meridhoi cinta Aisyah dan lelaki itu. Bayangkan betapa beruntungnya lelaki itu? Mendapatkan seorang wanita shalihah yg tidak pernah menjatuhkan hatinya kepada siapapun. Di malam itu, Aisyah bergumam dalam hati "Kau lah orangnya".
Ya , seseorang yang akan menemani Aisyah hingga disurga nantiππ
π Atiyatus Eka Putri
Komentar
Posting Komentar